JAKARTA – Guna mendukung upaya kemandirian energi, penggunaan limbah Lignoselulosa yang berlimpah di Indonesia bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua.
Saat ini Indonesia mempunyai tantangan besar untuk meningkatkan kemandirian di bidang energi dalam rangka mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Selama ini sistem penyediaan energi nasional berorientasi pada penggunaan energi fosil, sedangkan pemanfaatan energi non-fosil/energi baru terbarukan (EBT) masih sangat rendah. Penggunaan energi fosil memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca yang tidak saja menyebabkan gangguan lingkungan terutama bertambahnya polusi udara tetapi yang utama adalah meningkatkan pemanasan global (global warming).
Menurut laporan US EPA tahun 2000, lebih dari 90% gas rumah kaca dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil tidak hanya menghasilkan gas CO2, akan tetapi juga menghasilkan gas-gas polutan lainnya seperti nitrogen oksida, sulfur oksida dan juga logam berat. Masalah ini mengindikasikan bahaya besar bagi kehidupan manusia, jika umat manusia terus bergantung kepada energi fosil. Selain itu sumber energi yang berasal dari fosil semakin menipis dan diramalkan akan habis dalam beberapa dekade kedepan.
Untuk mengurangi ketergantungan energi pada bahan bakar fosil, banyak negara di dunia telah memberikan perhatian serius untuk pengembangan dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN), biofuels, salah satunya bioetanol sebagai bahan bakar alternatif.
Bioetanol menjadi target di banyak negara karena memiliki beberapa keunggulan jika digunakan sebagai bahan bakar antara lain a) kandungan oksigen yang tinggi sehingga jika dibakar jauh lebih bersih, b) ramah lingkungan karena emisi gas karbon-mono-oksida lebih rendah dibanding bahan bakar minyak (BBM) sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer dan c) bersifat terbarukan, bahan baku biomassa lignoselulosa tersedia di dalam negeri masing-masing.
Di Indonesia, rencana pemanfaatan BBN tertuang dalam nawacita rencana bauran Energi 2025. Disamping untuk pencampuran BBM pada kendaraan, bioetanol juga diprogramkan untuk pengganti minyak tanah yang disebut Program MITANOL (minyak tanah dari etanol).
Bioetanol, berdasarkan bahan baku yang dipakai dibedakan menjadi empat generasi yaitu bioetanol generasi pertama (G1) menggunakan bahan baku berbasis gula atau pati; bioetanol generasi kedua (G2) menggunakan bahan baku dari lignoselulosa misalnya limbah pertanian, kehutanan atau perkebunan; bioetanol generasi ketiga (G3) menggunakan bahan baku algae dari laut dan bioetanol generasi keempat (G4) yang dihasilkan dari biomassa yang telah mengalami modifikasi genetika untuk mempercepat proses pengolahan awal (pretreatment).
Saat ini di Indonesia industri etanol yang ada menggunakan bahan baku ubi kayu, jagung, dan molasse (tetes). Padahal, bahan-bahan tersebut masih banyak diperlukan untuk mencukupi kebutuhan pangan atau industri pangan. Di sisi lain, biomassa lignoselulosa tersedia cukup melimpah, dan biasanya merupakan limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan atau limbah indsutri-industri tersebut. Salah satu bahan lignoselulosa yang potensial untuk dijadikan bahan baku bioetanol adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) karena ketersediaannya di Indonesia cukup banyak, tersedia sepanjang tahun dan sudah terkumpul di area pabrik kelapa sawit. (Yanni Sudiyani – Pusat Penelitian Kimia-LIPI)
Untuk lengkapnya baca di InfoSAWIT Edisi Maret 2015