
JAKARTA – Guna mendorong meningkatnya produktivitas kebun sawit milik petani swadaya, kini muncul berbagai skim kerjasama yang menguntungkan. Hasilnya kebun sawit petani swadaya pun punya kesempatan untuk memiliki produktivitas tinggi.
Bagi Darma, petani asal Sumatera Utara, menjalani profesi sebagai petani merupakan pilihan hidup, kendati hasilnya belum bisa untuk memperbaiki kualitas hidup. Apalagi kerap dihadapkan pada harga kebutuhan barang-barang pokok yang terus melonjak, biaya sekolah anak yang terus melambung, serta harga pertanian yang tak kunjung membaik, kian membebani biaya hidup.
Apalagi sebelumnya Darma adalah petani padi gogo (ladang), sehingga hasil panen padinya ditentukan oleh alam. Lantaran, pengairan sawahnya bergantung dari curah hujan. Bila hujan dipastikan datang maka bisa berlega hati, namun bila curah hujannya hanya sedikit, Darma hanya bisa mengelus dada, sebab dipastikan hasil produksi sawahnya turun. “Kala itu kita pakai pupuknya pupuk doa, berdoa supaya ada hujan,” terang Darma bercerita masa lalunya kepada InfoSAWIT.
Akibat beban biaya hidup yang terus melambung, Darma pun berpikir untuk mengganti sawahnya menjadi kebun sawit. Apalagi di daerahnya telah banyak petani yang membudidayakan pohon kelapa sawit.
Dimata Darma, membudidayakan pohon kelapa sawit lebih memiliki kepastian penghasilan dibandingkan bertani padi, akhirnya Darma pun bersepakat membudidayakan kelapa sawit secara swadaya.
Dalam perjalanan waktu, rupanya membudidayakan pohon kelapa sawit pun tidak semudah yang dipikirkan. Lantaran minim informasi, Darma menanam kebun sawitnya dari kentosan (berondolan buah sawit yang jatuh), selain ditanam di kebun sendiri kentosan itu pun ada juga yang laku dijualnya. “Awalnya nanam dari kentosan, dan laku juga di jual,” katanya.
Jelas saja, dikala pohon sawitnya mulai beranjak dewasa, produktivitas kebun sawit miliknya tidak memberikan hasil produksi maksimal, harapan mendapatkan keuntungan besar dan hasil yang berlimpah kini hanya mimpi belaka.
Disaat hasil kebunnya tidak maksimal, masalah lain muncul lantaran infrastruktur jalan yang buruk dan jauhnya lokasi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang mencapai 2 sampai 3 kilometer, sempurna sudah penderitaan Darma. “Kami juga kesulitan mengirimkan buah ke PKS,” tutur Darma mengenang.
Rupanya kesulitan yang dialami Darma, juga dirasakan petani kelapa sawit lainnya seperti yang diceritakan petani asal Jambi, Haji Lukman. Kendati telah membudidayakan kelapa sawit semenjak awal, tetap saja tidak mendapatkan hasil produktivitas kelapa sawit yang maksimal.
Produktivitas kebun sawit milik petani Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Usaha Berkat itu hanya banter mencapai 0,5 sampai 0,6 ton TBS/ha/bulan. Belum lagi, penjualan buah sawitnya tidak langsung ke PKS alias ke para tengkulak, hasilnya harga buah sawit petani kerap dihargai lebih rendah.
Lukman bertutur, padahal petani sawit di wilayahnya cukup banyak, untuk keanggotaan Gapoktan Usaha Berkat saja, ada sebanyak 120 KK dengan lahan perkebunan kelapa sawit seluas 485 ha, berlokasi di Desa Rantau Benar kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.
Belum menghitung Gapoktan lainnya yang ada di dua kecamatan yakni Kecamatan Renah Mendaluh dan Kecamatan Merlung. Diperkirakan lahan perkebunan kelapa sawit milik petani swadaya di dua kecamatan itu mencapai 2.887 ha yang dimiliki sekitar 718 KK, dari lima Desa diantaranya Desa Pulau Paluh, Rantau Benar, Merlung, Lubuk Terap dan Penyambungan. Saat ini petani sedang berupaya meningkatkan hasil produktivitas kebun sawitnya. (T2)
Untuk lengkapnya baca di InfoSAWIT Edisi Maret 2015