Agen Sorax Sadap Latex – Sorax Sachet – Agen Sorax - Jual Sorax Perangsang Getah Karet Harga Murah

Harga Karet Merosot, Petani Mengeluh

Aceh Bisnis 11-02-2009
*m syafrizal/sugito tassan
MedanBisnis – Kota Langsa
Petani karet di Kota Langsa mulai mengeluh. Pasalnya, saat ini harga karet di tingkat pengumpul mulai menurun. Padahal, harga sebagian kebutuhan pokok terus merangkak naik.
“Akibatnya masyarakat menjadi terjepit, karena penghasilan dari petani karet sudah tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari,” ungkap seorang petani karet, Zulkifli (39) kepada MedanBisnis di Langsa, Selasa (10/2).
Dikatakannya, saat ini harga karet di tingkat pengumpul menurun menjadi Rp 4.800/kilogram, dari harga sebelumnya sebesar Rp 5.000/kilogram. Meskipun penurunan harganya tidak begitu drastis, namun kondisi seperti ini jelas membuat resah bagi para petani. Terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari bertani karet.
“Coba Anda bayangkan saja, biasanya setiap minggu saya memeroleh penghasilan sebesar Rp 500.000, akan tetapi kini dengan harga karet yang terus menurun maka saya hanya memeroleh penghasilan Rp 150.000–Rp 200.000 setiap minggunya,” ujarnya.
Belum lagi saat ini, kata dia, telah tiba musim gugur. Itu artinya pohon-pohon karet sudah tidak bisa lagi memberikan hasil seperti biasa dan produksi karet menurun. Biasanya musim gugur seperti ini baru kembali normal setelah lebih kurang selama empat bulan.
“Jadi selama empat bulan ini produksi dari kebun karet juga ikut menurun. Sudah harganya menurun hasilnya juga menurun,” tuturnya.
Karena itu, pemerintah pusat maupun daerah diminta segera mencari solusi terbaik untuk mengatasi persoalan ini. Karena bagi masyarakat yang perekonomiannya menengah ke bawah kondisi ini sangat memberatkan.
Gula Naik
Sementara itu, harga gula pasir di sejumlah pusat pasar di Lhokseumawe mulai bergerak naik mejadi Rp 8.500/kg dari sebelumnya Rp 6.500/kg. Sehingga membuat sejumlah masyarakat, terutama para pengusaha kue mengeluh.
Kenaikan harga gula pasir tersebut diduga akibat dihentikannya impor gula oleh pemerintah pusat, yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk gula dalam negeri. Pengaruh lain juga disebabkan kebun tebu belum mulai masa panen, akibatnya rotasi penggilingan sedikit tersendat. Hanya saja berdampak langsung bagi konsumen terutama pedagang kue.
“Akibat harga gula naik, secara otomatis akan memengaruhi keuntungan penjualan bagi kami, betapa tidak kue yang kami produksi semuanya menggunakan gula pasir. Karena bermacam jenis roti setiap harinya kita membutuhkan gula sekitar empat kg. Belum lagi kalau ada orderan misalnya. Sedangkan penjualan kue harganya tetap Rp 500 per potong,” ujar seorang pedagang kue Rinaldi, Selasa (10/2).
Sementara itu, Kepala Disperindagkop Kota Lhokseumawe Muhammad Ridha, ketika dikonfirmasi membenarkan adanya kenaikan harga gula pasir tersebut. “Sumber kenaikan tersebut berasal dari pabrik terutama di Lampung. Bahkan di tingkat pabrik harganya sudah mencapai Rp 6.900/kg, sedangkan tingkat distributor di Lhokseumawe harganya Rp 7.900/kg. Di tingkat pengecer mencapai Rp 8.500/kg,” katanya.
Ridha juga tidak membantah, bahwa kenaikan harga gula tersebut juga terpengaruh kebijakan pemerintah menutup kran impor gula. Dan selama ini kebutuhan Lhokseumawe diimport dari Malaysia.
“Begitu juga kabarnya sekarang belum masa panen, sehingga mempengaruhi proses penggilingan di Lampung, karena pasokan kita setelah tidak lagi import, dikirim dari Lampung,” jelasnya.
Di sisi lain gula yang berasal dari pabrik Gunung Madu Plantation (GMP), harga di tingkat distributor ditawarkan kepada konsumen Rp 7.500/kg. Sedangkan harga eceran dijual Rp 8.000/kg.
Sumber: http://www.medanbisnisonline.com/2009/02/11/harga-karet-merosot-petani-mengeluh/

Advertisements
Category: Karet alam